Taman Siaga Bencana, Bentuk Kepedulian Tagana untuk Indonesia Hijau

  • Taman Siaga Bencana, Bentuk Kepedulian Tagana untuk Indonesia Hijau
  • WhatsApp Image 2019-09-16 at 4.38.23 PM (1)
  • WhatsApp Image 2019-09-16 at 4.38.23 PM (2)
JAKARTA (12 September 2019) - Indonesia akan memiliki Taman Siaga Bencana yang berkontribusi untuk menjaga alam, "Taman Siaga Bencana adalah bentuk kepedulian Taruna Siaga Bencana (TAGANA) untuk Indonesia Hijau," ungkap Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kementerian Sosial RI, Rachmat Koesnadi, di Jakarta (12/09).

Kementerian Sosial juga akan melaksanakan Jambore dan Bhakti Sosial TAGANA tingkat nasional 2019 pada 25 s.d 28 September 2019 di Provinsi Jawa Timur, "Jambore Tagana ini digelar sebagai bentuk apresiasi Kementerian Sosial atas kontribusi Tagana dalam penanggulangan bencana alam," ungkap Rachmat saat memimpin rapat persiapan Jambore dan Bhakti Sosial Tagana tingkat nasional 2019 di Kementerian Sosial.

Rencananya, kegiatan ini akan dihadiri oleh 3.000 hingga 5.000 peserta. "Kami mengundang 340 peserta yang dibiayai oleh Kementerian Sosial, dan 1.600 Tagana Jawa Timur yang dibiayai oleh pemerintah Dinas Sosial Jawa Timur, namun yang akan hadir dalam kegiatan ini mencapai 3.000 sampai 5.000 peserta," tambahnya.

Kegiatan yang akan dihadiri oleh 3 negara ASEAN seperti Malaysia, Myanmar dan Brunei Darussalam ini mengusung tema 'Tagana Menjaga Alam'. 

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Dr. Sukesi, Apt. MARS yang juga hadir pada rapat tersebut mengatakan bahwa terdapat 160.000 bibit pohon yang akan dibagikan ke masyarakat, yang akan ditanam di sekitar lautan pasir Bromo.

Di hadapan peserta rapat yang dihadiri oleh para stakeholder, Sukesi juga menjelaskan terkait rangkaian acara yang akan dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan ini, salah satunya adalah Taman Siaga Bencana.

Hal menarik dari Taman Siaga Bencana adalah masyarakat dapat memanfaatkan botol plastik bekas yang dapat ditukarkan dengan bibit pohon, yang disediakan oleh panitia kegiatan.

"Tiga bibit dapat ditukar dengan 10 botol plastik, karena 10 botol plastik akan kami jadikan bibit kembali sehingga proses itu akan terus berlangsung secara berkesinambungan," ujar Sukesi.

Penulis :
Ayu Septi Shofia
Editor :
Alek Triyono; Intan Qonita N
Penerjemah :
Alif Mufida U

Bagikan :