Spirit Ai dalam Melepas Belenggu Kemiskinan

  • Spirit Ai dalam Melepas Belenggu Kemiskinan
  • 15655818801688
  • 15655825185545

Malam telah larut. Namun sepasang mata Ai Romlah enggan terpejam. Pandangan matanya tertaut pada empat orang anak-anaknya yang tengah tertidur meringkuk berjejalan, di atas selembar tikar lawas. Di dalam bangunan yang serba terbatas, tidak ada tempat leluasa bagi mereka untuk sekedar merebahkan badan.

Warga Kampung Bojongsong RT 02/03, Desa Bojongsong, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.itu hatinya remuk. Karena mereka berempat tidur dengan perut kosong. Sudah dua hari indra penciuman mereka sekeluarga tidak mengendus harum kepulan asap nasi yang ditanak.

Keadaan serba kekurangan seperti enggan pergi dari setiap embusan nafas mereka. “Ya Allah, dosa apa yang sudah hamba lakukan. Bila ini adalah karma-Mu atas dosa dan khilaf hamba, maka maafkan hamba-Mu yang dhoif,” kata Ai, meratap dalam hati.

Dua Hari Tak Makan, Sudah Biasa

Di malam-malam panjang, Ai bermunajat. Memohon setetes kasih dan sayang Allah SWT. “Ya Allah, aku yakin Engkau dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Janji-Mu adalah haq. Jika rezeki itu masih tertahan di langit, maka turunkanlah. Bila masih berada di balik bukit, maka dekatkanlah. Bila masih menunggu esok hari, maka segerakanlah,” katanya.

Entah berapa jam mata Ai beku. Sayup-sayup ia mendengar kokok ayam dan cericit suara burung pipit. Ai tersadar dari lamunan panjang. Hari telah beranjak pagi. Bersamaan dengan suara tarkim dari musholla sebelah, Ai berkemas menjemput hari.

Pagi ini sejumlah tetangga meminta jasa Ai mencuci dan menyetrika baju. Inilah ladang hidupnya, membantu suami yang menjadi juru parkir. Bayangan indah berkelebat. Ya, tungku di belakang rumah Insya Allah kembali berasap. Allah mendengar doanya.

Ai menerima Rp15/000 untuk setiap jasa cuci dan strika di setiap rumah. Ai menjalani profesinya dari rumah ke rumah dari pagi buta hingga malam. “Bila beruntung saya bisa menghasilkan Rp100- 200 ribu perhari. Lumayan, bisa menambah penghasilan suami yang tak menentu,” kata ibu empat anak ini.

Ujung bibirnya sekilas terangkat, untuk segera mendatar dalam sesaat. Upah cuci-setrika baru dibayar setelah pekerjaan selesai. Artinya anak-anak terpaksa tetap berangkat sekolah dengan perut kosong.

"Sering mereka sekolah tanpa uang saku dan bekal makanan. Bahkan mereka belum makan. Nanti mereka pulang membawa sampah plastik untuk dijual. Uangnya untuk makan," kata Ai, saat berbincang dengan penulis.

Tanpa uang, si sulung harus berjalan kaki sejauh sekitar 7 km ke sekolah. Pulangnya dengan cara sama, hanya kali ini dengan membawa sampah plastik yang ia junpai di jalan. Ai sungguh bersyukur, keadaan yang serba kurang ini, tidak membuat anak-anaknya manja. Mereka justru tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berbakti kepada orangtua.

"Mereka menerima dan tidak pernah protes. Kami semua juga sadar, hanya pendidikan yang akan mengubah nasib," katanya. Begitulah. Semangat pantang menyerah ini digeneratori oleh sang ibu, menyebar dan tertanam kuat di sanubari anak-anak dan keluarga.



PKH Mengubah Arah Hidup

Ai beruntung berada di tengah-tengah masyarakat yang perduli terhadap sesama. Mereka tak segan membantu beberapa kesuilitan yang dialami Ai sekeluarga. Seperti tatkala rumah tinggalnya miring hendak roboh, mereka bergotong royomg membantu merenovasi rumah.

Tahun 2008, menjadi titik balik penting perjalanan hidup Ai dan keluarga. Kabar baik datang dari para tetangga. Mereka yang berempati dengan nasib keluarga ini, memberi informasi penting. “Mereka menyarankan, agat saya mengikuti program PKH,” kata Ai.

Pendidikannya yang hanya selevel SD menbuat Ai tak tahu apa yang dimaksud dengan PKH. Belakangan ia tahu PKH kepanjangan dari Program Keluarga Harapan. Tetangga, teman, petugas di kantor desa, menjelaskan PKH panjang lebar kepada Ai.

Tak semuanya ia pahami. Sekilas yang ia tangkap, orang miskin macam dirinya adalah pihak yang bisa mendapat bantuan dari program ini. Dengan menjadi Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Ai akan mendapat bantuan uang secara nontunai sebesar Rp1.890.000 per tahun yang bisa dicairkan sebanyak empat kali.

"Saya terima Rp500.000 setiap tiga bulan. Dan tiga bulan terakhir Rp390.000. Alhamdulillah. Saya bersyukur sekali. Saya sangat terbantu dengan PKH," katanya demgan mata berbinar. Setelah melengkapi berbagai persyaratan administrasi, maka resmi pada 2008, Ai tercatat dalam kepesertaan PKH dengan pendamping bernama Feny Mirdaliani.

Sebagai bentuk rasa syukur dan tanggung jawabnya, Ai mentaati semua kententuan atau persyaratan sebagai persyaratan KPM PKH. "Saya gunakan bantuan itu untuk keperluan sekolah anak. Membeli seragam, buku, alat tulis, dan sebagainya," katanya.

Ia menggeleng mantap saat penulis menanyakan, apakah bansos PKH yang ia terima tidak digunakan untuk membeli rokok buat suami? "Tidak pak. Semuanya untuk keperluan sekolah anak," katanya. Pernyataan ini dibenarkan Feny yang mendampingi selama wawancara.

“PKH sangat bermanfaat membantu biaya sekolah. Terima kasih Pak Mensos dan terima kasih Presiden Jokowi,” katanya, mantap. Ai tipe perempuan yang tidak cepat puas, pekerja keras, dan bertekad kuat mengubah masib. Bansos PKH yang diterimanya tidak membuatnya terlena, santai dan bermalas-malasan.

Ia justru terlecut. Inilah momentum baginya untuk mencari terobosan. Setelah bekerja sebagai buruh cuci pakaian, Ai mulai berdagang lotek di teras rumahnya yang mungil. Lotek adalah salah satu makanan khas Bandung, mirip gado-gado.

Tanpa dinyana, sepasang tangan Ai punya sentuhan emas. Bumbu lotek yang diolahnya, sanggup menggetarkan syaraf lidah para pelanggan. Pelan tapi pasti, warungnya makin ramai. Tetangga dekat, tetangga jauh menyantap lotek, Bahkan perkantoran instansi pemerintah, perbankan, kantor polisi, dan rulo-ruko di sekitar warung, tak mau ketinggalan. Mereka memesan dalam jumlah besar.

Jalan untuk bangkit telah terhamparkan. Semangat Ai makin bergelora. Sang suami kini juga punya kesibukan baru. Pagi-pagi ia membantu istrinya belanja ke pasar membeli bahan-bahan lotek. Siamgnya ia masih mamgkal menjadi tukang parkir.

Belakangan, jenis dagangan di warung Ai makin beragam. Selain lotek, ia juga melayani menu bakso dan juga minuman siap saji seperti kopi saset kecil dan sejenisnya. Untuk mengelola usaha kecilnya, Ai ini bahkan sudah melibatkan dua orang pekerja.



Sukses Jualan Lotek, Ikut Kelola KUBE

Titik terang dalam bisnis rumahan ini bermakna ganda bagi Ai. Pertama ia yakin bahwa bisnis lotek makin kuat menopang ekonomi keluarga. Kedua, Ai termotivasi untuk makin meningkatkan perannya dalam bisnis yang lebih luas.

Maka pada tahun 2016 sejumlah teman menyarankan Ai agar menerima bantuan lain yang disebut Kelompok Usaha Bersama (KUBE). KUBE merupakan salah satu program pemerintah pada Kementerian Sosial RI yang bertujuan memberdayakan kelompok masyarakat miskin dengan pemberian modal usaha melalui program Bantuan Langsung Pemberdayaan Sosial (BLPS) untuk mengelola Usaha Ekonomi Produktif (UEP).

Bersama sejumlah kawannya, Ai kini juga sibuk mengolah usaha kuliner dengan bantuan KUBE. Usaha yang dikembangkan adalah bakso ikan dan kue-kue basah. “Usaha ini berkembang dengan baik,” kata Feny, dibenarkan Ai Romlah.

Begitulah karakter Ai yang tidak sudi menyerah pada nasib. Berkat usaha kerasnya, kini taraf hidup Ai dan keluarga makin sejahtera. “Saya ingin mengubah nasib. Saya juga ingin, orang yang senasib dengan saya dulu, bisa ikut maju. Untuk itu, saya menyatakan berhenti dari kepesertaan PKH, agar bantuan bisa diberikan kepada mereka yang membuthkan,” katanya.

Sebagai pendamping, Feny menilai, Ai Romlah tergolong KPM yang agak langka. “Bu Ai memillki semangat mandiri yang luar biasa. Ia pekerja keras, dan semangatnya untuk maju dan merubah nasib sangat kuat,” katanya.

Selain itu, Ai juga KPM yang patuh dengan segala ketentuan dalam PKH sebagai bantuan bersyarat. “Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan yang dilakukan,” katanya. Medio Juli 2018, Menteri Sosial Idrus Marham menyematkan setifikat kepada Ai dan sejumlah KPM yang sudah graduasi.



Bagikan :