Menjadi Pendamping Agar Hidupnya Bermanfaat

Menjadi Pendamping Agar Hidupnya Bermanfaat

Sudah sembilan tahun Gigondola Sugiri menjadi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Hasilnya, kini masyarakat binaannya di Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor tidak hanya berdaya tapi juga “mentas” dari belenggu kemiskinan.

Tekad Gigondola Sugiri sudah bulat. Ia ingin hidupnya bisa bermanfaat untuk orang lain. Karena itulah, pada tahun 2008 lalu, pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini memutuskan untuk menjadi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). “Saya menjadi lebih peduli dengan nasib orang lain,” tuturnya.

Saat ini Sugiri bertugas di wilayah Kelurahan Cikaret, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Sudah sembilan tahun ia bertugas disana. Mengawali bertugas sebagai pendamping di Kelurahan Cikaret, Sugiri mengaku banyak tantangan yang dihadapi. Maklum saat itu Kelurahan Cikaret belum tersentuh program bantuan pemerintah.

Kemiskinan masih menjadi persoalan pelik yang harus dihadapi masyarakat Cikaret. Begitupun sarana dan prasarana yang dimiliki juga masih minim. “Untung saja lokasi dampingan saya tidak jauh dan masih bisa dijangkau,” ujar Sugiri mengenang.

Namun, kini Sugiri bersyukur. Sejak digulirkannya Program Keluarga Harapan, masyarakat di Kelurahan Cikaret semakin berdaya. Berbagai fasilitas sosial juga sudah mulai dibangun. Hanya saja, saat ini untuk media elektronik memang belum ada. Padahal bagi Sugiri, media elektronik sangat diperlukan sebagai media bantu untuk pertemuan kelompok. Dengan adanya media elektronik akan membuat warga tertarik mengikuti program.

Sugiri menceritakan keluarga yang didampingi memang kebanyakan dari kalangan yang kurang beruntung. Namun ia menyayangkan, kesadaran mereka untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi masih rendah karna masih mengandalkan dan berharap pada bantuan pemerintah.

Meski begitu ia bersyukur dengan adanya program PKH yang telah banyak membantu masyarakat dari beban ekonomi. “Alhamdulillah banyak yang sudah terbantu dengan adanya PKH, sehingga dapat mengurangi beban pengeluaran mereka,” kata Sugiri bangga.

Sembilan tahun menjadi pendamping tentu banyak suka dan duka yang dilakoninya. Salah satunya yang paling berkesan ketika menjadi wali sebuah pernikahan. Ceritanya, saat itu salah satu Ibu KPM ingin menikahkan anak laki-lakinya. Namun sang bapak tidak ada karena bekerja di luar kota. Buntutnya, ia pun diminta untuk melamarkan dan menikahkan anak laki-laki dari ibu KPM tersebut.

Pengalaman menarik lainnya adalah ketika salah satu ibu KPM yang ingin melahirkan. Tapi anehnya ibu tersebut tidak mencari suaminya, melainkan malah mencari dirinya untuk mengantar ke rumah sakit. Sugiri bahkan juga pernah mendampingi anak KPM yang menderita kanker stadium tinggi. "Saya mondar-mandir ke rumah sakit untuk mengantar anak tersebut,” ujar Sugiri.

Selama ini menurut Sugiri, pelaksanaan proram PKH sudah berjalan dengan baik. Koordinasi dengan operator di kecamatan dan Kementerian Sosial juga tak ada masalah. Hanya saja, terkait penyaluran bansos melalui sistem non tunai menurutnya dalam pelaksanaannya masih ditemukan sejumlah permasalahan, seperti sistem yang belum maksimal sehingga banyak data yang eror.

Kendala lain adalah masyarakat juga masih banyak yang belum mengenal teknologi. Hal ini disebabkan karena kualitas SDM yang rendah. “Bayangkan untuk ke ATM saja, kadang mereka harus diantar pendamping,” kata lelaki yang kerap dipanggil Gigin.

Ke depannya Sugiri berharap agar PKH harus bisa bersinergi dengan pihak-pihak lain seperti lembaga zakat. Tujuannya agar bisa saling bersinergi dan mendukung dalam penurunan angka kemiskinan. Menurut Sugiri, pengentasan kemiskinan berbasis masyarakat perlu dikembangkan. Salah satunya dengan cara subsidi silang dengan pengelolaan zakat.

Dengan begitu upaya pengentasan kemiskinan tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi masyarakat. “Masyarakat harus bisa mengambil peran dalam membantu pengentasan kemiskinan ini,” kata Sugiri.

Sedangkan untuk para pendamping, Sugiri, mengharapkan agar mereka tidak hanya mengedepankan jiwa kekaryawanan tetapi juga ditanamkan jiwa-jiwa kerelawanan. Sugiri membayangkan jika PKH bisa bersinergi dengan lembaga zakat dan pendampingnya yang memiliki jiwa kerelawanan yang tinggi, sepertinya akan menjadi kekuatan besar yang dapat membantu pemerintah dalam percepatan penanggulangan kemiskinan di negeri ini. Semoga. 



Bagikan :